Dijual Murah: Tulang-Belulang Nenek Moyang!
Oleh: Pande Putu Setiawan
Dijual murah: Pulau Bali, butuh uang! Setelah memiliki uang banyak, semua hutan telah ditebang, air telah teracuni dan mengering, udara telah tercemar, maka kita baru akan menyadari uang tak bisa dimakan. Menjual, seolah kita pernah membuat bumi ini?
Masih segar ingatan saya melewati jalanan bersih dan lebar di Vientiane – Laos beberapa bulan lalu, kembali mengingatkan saya romantisme keindahan pulau Bali puluhan tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Suara alam masih bisa saya dengar! Masih segar pula terekam di mata saya sebuah film Bali tahun 1930-an dari sekeping VCD, tak butuh 70-an tahun semua alam itu telah dengan gagah disulap menjadi Bali metropolis saat ini.
Masih segar pula ingatan saya 3 tahun lalu ketika saya menolak untuk bekerja di Kanada, negara dengan peringkat tertinggi layak huni versi PBB, memilih untuk kembali pulang ke kampung halaman saya, Bali, tempat lahir yang sangat saya sayangi dan bela kemanapun saya pergi, hanya karena kerinduan saya yang begitu besar akan kehidupan, alam, budaya dan segala ke-Bali-an yang pernah saya kecap dulu itu.
Hari ini kepercayaan, kecintaan, kebanggaan itu memudar, luntur. Saya merasa ’berdosa’ kepada diri saya sendiri, walau langsung saya maafkan. Kota Denpasar hiruk-pikuk, macet, dipenuhi manusia, kendaraan, ruko, nyamuk demam berdarah, anjing rabies, penduduk pendatang, perampokan, masalah, banjir. Walau ketika sore hari lapangan Renon masih sedikit menghibur saya dengan rumput hijaunya, dan hiburan aparat tibum kucing-kucingan dengan pedagang asongan setiap hari. Pantai Dreamland telah dijadikan resort mewah. Di pantai Semawang, pura digusur dan segera pula akan dibuat hotel. Sebagian besar tebing, sawah, nusa, danau telah disulap atas nama ‘investasi’ dan ‘pariwisata’ menjadi sebuah Bali modifikasi model baru.
Sebagian lagi telah disulap menjadi luar negeri. Bali dikirimi binatang Afrika, orang utan, gajah, buaya, unta, dan sawah dibuatkan taman safari seolah bali butuh itu? Semua tempat tak bisa menghindar dari sepuhan tangan-tangan berduit. Mall dibuat mencaplok pantai, klub-klub internasional, LSM-LSM internasional seolah semua ingin menjadi pahlawan kesiangan, setelah mengeruk ‘isi perut’ pulau yang kecil dan mungil ini.
Siapa itu orang Bali?
“Siapa itu orang Bali?” Saya bertanya dalam hati. Karena kalau saya merasa orang Bali kenapa sebagian pulau ini sudah tak bisa saya jejaki karena telah dimiliki investor. Semua dijual! Tanah, air, harga diri, budaya, kearifan leluhur, hanya untuk lembar-lembar uang. Uang telah menjadi Tuhan! Merubah manusia menjadi hantu. Masih segar pula dalam ingatan saya cerita para nenek moyang kita membangun kebudayaan dan peri kehidupan di pulau Seribu Pura ini, dan kini malah tulang-tulangnya yang mengabu di laut, danau, tanah kita gadaikan atas nama Tuhan baru : Uang! Tri Hita Karana hanya pemanis bibir, gincu, esensi sejatinya tak pernah dijalankan! Hanya nama penghargaan lomba-lombaan hotel!
Sebegitu naifkah orang Bali? Dan siapa itu orang Bali? Masih saya pertanyakan dalam hati. Karena ia yang mendiami pulau ini tak peduli! Selama ini kata-kata telah tertiup angin dan menjadi angin lalu. Anjing menggonggong, khafilah berlalu. Anjing ompong, biarin aja disitu. Manusia telah mati rasa dan buta hati. Dan manusia, telah menjadi ’binatang’ yang paling buas di bumi. Budak paling takut kepada ’Tuhan’ uang.
Masih segar ingatan saya janji-janji di papan baliho caleg, rebutan menjaga Bali (katanya), sekarang mana suara mereka? Semua bisu, apa memang bisu? Ketika berniat saja menjadi caleg seharusnya telah memiliki mental dan mulut ber-api yang digerakkan oleh otak berisi. Bicaralah, jangan bisu pun tuli!
Pemerintah? Siapa itu pemerintah? Memerintah atau melayani, ngayah atau ngamah? Walau harus saya akui apapun yang ada, hati ber-api tadi, tetap kita semua harus menyadari bahwasanya semua berujung kepada pemerintah. Karena secara kelembagaan kita rakyat dan pengambil kebijakan tetaplah pemerintah. Demo tak menyelesaikan masalah, panas hati membakar diri. Masih berharap, pasti selalu berharap, karena saya masih percaya manusia masih punya hati, mudah-mudahan juga bisa berbicara, bukan hanya mulut.
Sesungguhnya Bali Tak Pernah Belajar!
Bali, Bali, Bali. Sebuah pulau yang tidak pernah percaya diri. Para eksekutif dan legislatif sudah sering berkunjung kerja keluar negeri (katanya), lalu apa yang mereka bawa pulang. Kemajuan, masa depan, kemunduran? Mereka semua mungkin, ’mungkin’ acuh toh ketika mereka diganti mereka sudah kenyang biarkan yang baru giliran peduli. Sesungguhnya, Bali tak pernah benar-benar belajar! Dari negara lain, dari masa lalu, dari masa kini, padahal semua merasa terpelajar! Lihat saja janji-janji di baliho, masih segar dalam ingatan saya!
Ketika beberapa waktu lalu saya pulang dari sebuah negara nan eksotis - Laos di tepi sungai Mekong, saya merindukan Bali yang sehangat itu, nyaman, ramah, dengan kuil-kuil memenuhi pinggiran jalan, para wanita mengenakan sutera lokal, biksu mengenakan selempang kain jingga, dan budaya mereka begitu adi luhung. Saya jadi teringat kampung halaman saya waktu itu, Bali, sebuah pulau ’terbaik’ di dunia versi majalah Travel & Leisure dan majalah TIME. Tapi itu hanya ’mimpi’.
Bali, Bali, Bali. Shanti, Shanti, Shanti. Sekedar slogan, dan proyek menghamburkan uang. Bali shity, shity, shity, pernah saya baca plesetan branding Bali itu di sebuah blog internet. Tentunya saya miris, tentunya harga diri saya merasa terinjak. Tapi setelah saya lihat dengan mata kepala sendiri, saya rasa, saya olah pikir, Bali saya saat ini, saya harus rela menerimanya dengan lapang dada.
Dua pesan terakhir. Mahatma Gandhi pernah berucap “Bumi telah menghasilkan cukup untuk setiap orang, tapi tidak cukup untuk orang serakah.” Kepala-suku Indian pernah berpesan ”Bumi ini bukan milik manusia, tapi manusia milik bumi!”
Kelak semua dari kita akan benar-benar memahami isi kedua pesan tersebut, ketika tulang-belulang kita sendiri yang harus digadaikan untuk uang! Good by Bali!
23/1/2009 01:00 am
Artikel Selengkapnya: |
| -10 Danau Rusak Parah Terancam Berubah Fungsi - 20 Tahun Lagi-- Danau Batur Terancam Beracun - Danau di Bali Tercemar-- Bappedalda Prihatin, Pusreg LH Bentuk Tim - DELAPAN DARI 40 PETANI, DARAHNYA KERACUNAN - Empat Danau di Bali Tercemar Zat Kimia - Saat Kesadaran Terlepas - Dijual Murah: Tulang-Belulang Nenek Moyang! - Pertanian Bali: Merusak Diri |