Danau di Bali Tercemar --
Bappedalda Prihatin, Pusreg LH Bentuk Tim

 

 

Publikasi hasil uji kualitas air empat danau membuat Pusat Regional Lingkungan Hidup (Pusreg LH)) Bali Nusra bereaksi. Lembaga ini telah membentuk tim pengkajian untuk memastikan, apakah air di keempat danau itu tak layak lagi dipakai untuk kepentingan sesuai dengan PP No.82 Tahun 2001. Sementara Ketua Bappedalda Bali Wayan Sudji menyatakan prihatin atas kondisi itu. Oleh karenanya sudah dilakukan upaya untuk meminimalisasi pencemaran pestisida di Danau Batur.

''Saya kaget membaca Bali Post, bahwa keempat danau di Bali tercemar zat kimia. Makanya kami segera membentuk tim pengkajian yang mulai ke lapangan besok (Selasa ini-red),'' ujar Kepala Pusreg LH Bali Nusra Ir. Raden Sudirman, Senin (2/10) kemarin.

Menurutnya, mencermati tabel hasil uji kualitas air di empat danau itu kondisinya masih bisa ditoleransi. Kecuali kandungan organik di Danau Batur berupa Biology Oxygen Demand -- BOD) yang memang lebih tinggi dari ambang batas baku mutu.

Kepala Badan Pengawasan dan Penanggulangan Dampak Lingkungan Daerah (Bappedalda) Bali Wayan Sudji mengatakan sejauh ini memang sudah ada upaya untuk meminimalisasi pencemaran pestisida di Danau Batur. Petani sayur yang lokasi pertaniannya dekat dengan danau diupayakan untuk menggunakan pupuk organik. Keberadaan pupuk ini pun sudah disosialisasikan sehingga perlahan-lahan pestisida akan dikurangi pemakaiannya.

Namun, tambah Sudji, penggunaan pupuk organik ini bukannya tidak berisiko sama sekali. Akan ada persoalan yang menyangkut hama pengganggu maupun gulma. Sehingga, ada upaya pula untuk menyadarkan masyarakat di sekitar danau yang melakukan aktivitas di darat tidak membuang limbahnya langsung ke danau. ''Kita sudah memiliki proyek percontohan pengolahan limbah dengan tanaman. Namun, pengolahan limbah melalui sistem ini lebih mahal,'' katanya.

Pengamat pertanian Dr. Ni Luh Kartini mengakui bahwa penggunaan pestisida yang terus-menerus akan mempengaruhi kualitas air yang ada di sekitar lahan pertanian. Hanya akan sulit mendeteksi kapan air yang tercemar ini memakan korban jiwa. Sebab, pestisida umumnya mengendap di tubuh manusia dan membutuhkan waktu yang lama untuk bereaksi. Ia menyarankan petani menggunakan pupuk organik untuk menggantikan pestisida.

Jikapun petani masih menggunakan pestisida, disarankan penggunaan pestisida alam alias menggunakan tumbuhan yang memang musuh dari hama pengganggu. Penggunaan pupuk organik dan pestisida alam ini dianggapnya efektif menggantikan pestisida yang mengandung bahan kimia beracun. Secara perlahan-lahan pun, kandungan bahan kimia yang sudah telanjur masuk ke tanah akan diserap tanaman, sehingga unsur hara bisa dikembalikan.

Sumber : Bali Post

 

Note:

Kenyataannya sampai saat ini pemerintah tidak pernah turun tangan secara serius menangani permasalahan pencemaran danau ini. Masyarakat 100% masih menggunakan pestisida kimia. Kami hanya memiliki kapasistas bersama dengan anak-anak alam desa Songan dan Blandingan hanya mampu sebatas membersihkan danau dari sampah plastik dan memberi contoh kepada masyarakat umum, selebihnya kami harap pemerintah provinsi dan pemerintah daerah memiliki kepedulian bukan hanya kata-kata.

 

 

Artikel Selengkapnya:
-10 Danau Rusak Parah Terancam Berubah Fungsi
- 20 Tahun Lagi-- Danau Batur Terancam Beracun
- Danau di Bali Tercemar-- Bappedalda Prihatin, Pusreg LH Bentuk Tim
- DELAPAN DARI 40 PETANI, DARAHNYA KERACUNAN
- Empat Danau di Bali Tercemar Zat Kimia
- Saat Kesadaran Terlepas
- Dijual Murah: Tulang-Belulang Nenek Moyang!
- Pertanian Bali: Merusak Diri